Asa Mulia Seorang Tunadaksa


Tarakan, PenaKaltara.com - Umar, begitulah ia biasa disapa. 8 tahun sudah ia menjalani rutinitas sebagai seorang Juru Parkir. Mengenakan celana setengah tiang jenis jeans ia tampak bersemangat. Tas merah tampak menggantung di depan perutnya. Sesekali terdengar bunyi peluit yang ditiupkan oleh mulutnya, memberikan aba-aba bagi pengunjung tempat itu agar susunan kendaraan yang dibawa tetap terlihat rapi dan tidak mengganggu kendaraan lain. 

Meskipun fisiknya tak memadai, namun Umar selalu punya cara agar pengendara mengerti arahannya. "Yang penting kan masih bisa teriak," kata Umar sambil tersenyum tatkala PenaKaltara.com tengah menungguinya. 

Siang itu, Minggu (26/11) langit tampak teduh. Secara khusus PenaKaltara.com berkunjung ke wilayah komplek pertokoan "THM" khusus untuk menemuinya.  Ya..Umar, lelaki kelahiran tahun 1980an itu menyempatkan diri untuk bercerita. Sungguh mulia hati Umar, ditengah keterbatasan fisiknya itu, ia tetap semangat berjuang demi mencukupi kebutuhan keluarganya. Selain keluarga Umar juga bersemangat karena berharap dengan hasil retribusi parkir yang ia dapatkan, dapat berguna bagi pembangunan Kota Tarakan yang ia cintai.

Meskipun setengah dari kedua tangan Umar telah hilang, tak membuat Juru Parkir itu minder dan putus asa, dirinya tetap berusaha keras, untuk melayani dan menjaga kendaraan yang parkir disitu. Suka dan duka kerap ia dapati, dalam menjalani tugas sebagai juru parkir, mulai dari pujian, simpati, dan kritikan sudah menjadi "makanan" sehari-hari baginya. Dirinyapun berharap, hasil Retribusi parkir, benar- benar dapat digunakan untuk pembangunan di wilayah Kota Tarakan.

Dalam kisahnya iapun menuturkan perjalanan hidupnya hingga ia dikenal sebagai juru parkir yang  santun dan baik hati bagi para pengendara yang memarkirkan kendaraannya di wilayah komplek Pertokoan itu

"Kalau masalah cerewet ya banyak,kebanyakan si begitu cuma karena kita jukir  harus kuat. jadi kita harus percaya diri, harus kita sabar menghadapi," tuturnya.

Pria kelahiran Sinjai, Sulawesi Selatan ini mengadu nasib ke Kota Paguntaka ini sejak tahun 2005. Mulanya ia bekerja sebagai penjaga tambak selama 3 tahun. kemudian setelah itu banyak pekerjaan yang pernah ia "lakoni" antara lain  menjadi kuli bangunan, jual barang keliling, nelayan trawl. Untuk kemudian ia mencoba jadi juru parkir di Pertokoan THM. "Saya berpikir ini, kalau hasil pungut  dari kendaraan. ada sedikit pemasukkan ke daerah, karena ada penagihnya dari dinas perhubungan. Dari pungutan ini, bisa berkembang dengan baik," jawabnya ketika ditanya memilih berprofesi sebagai juru parkir

Disamping itu, soal pendapatanpun Umar tidak pernah mengeluh. Hasil yang ia dapatkan tiap hari dengan menjadi juru parkir menurutnya sudah cukup baginya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari."Menurut saya sih itu sudah cukup buat hari-hari," kata Umar. Menurut pengakuan Umar, hasil yang didapat dari juru parkir ini berkisar antara Rp30rb sampai dengan Rp50rb setiap harinya.  
"Karena kalau misalnya pendapatan segitu, beli beras 1 kg kebutuhan dirumah kan cukup, besok ada lagi Rp30rb atau  Rp40rb ya dibelikan sayur, lusa misal ada lagi dibelikan ikan," jelas Umar. Umar tidak mempermasalahkan soal penganan yang menjadi kebutuhan pokoknya. "Yang penting masih ada terasi aja sudah cukup kalau misalkan yang lain tidak ada," katanya lagi. 
Menjadi juru parkir, bagi Umar memiliki kesan yang sangat relatif. Ada suatu masa ia mendapati kesan baik dari pengunjung. Terkadang juga ia mendapat perlakuan buruk. Meski begitu, ia tetap berusaha kuat dan tegar dalam menghadapi itu semua. Utamanya perlakuan yang buruk. "Ya itulah resiko sebagai juru parkir," tandasnya. 
"Enaknya sih kalo ketemu pejabat, kadang dibelikan makanan," ujar Umar sambil terkekeh. Sedangkan yang tidak enaknya yakni perlakuan pengunjung yang nyaris tidak memiliki sopan santun menurutnya. "Ada yang nakal masuk parkiran, sudah di aturkan motornya keluar dari toko, langsung jalan tidak noleh dan tidak minta ijin, Padahal kita ini bukan patung berjalan, boro-boro mau bayar," kesalnya.  Belum lagi pengunjung yang ketika didatangi kekiri dia menoleh kekanan langsung kemudian langsung lari. "Seperti main kucing-kucingan," kata Umar sambil terkekeh. Meski begitu, Umar tetap ambil pemikiran positif atas hal itu. Menurut prasangka Umar, mungkin saja mereka yang begitu memang sedang tidak memiliki uang untuk bayar parkir. Sehingga iapun biasanya membiarkan saja. "Siapa tau besok ada rezeki dia datang bayar lebih parkirnya," canda Umar sambil berjabat tangan dengan Wartawan PenaKaltara.com.

ADI KUSTANTO
Editor : Bobby Furtado
TAG