KNPI Bicara Konstelasi

Copyright By. PenaKaltara.com

TARAKAN, PenaKaltara.com 
- Pelaksanaan Pemilihan Walikota (Pilwako) Tarakan hanya tinggal beberapa bulan lagi. Para calon dapat dipastikan tengah sibuk mempersiapkan segala hal yang dapat mendukung upaya pencalonannya. Mulai dari pencarian pasangan yang cocok, partai pengusung serta kesiapan berkas pendaftaran ke lembaga jawatan.

Hal itulah yang membuat masyarakat selaku pemegang kedaulatan tertinggi sekaligus juga sebagai komentator terbaik mulai tergelitik. Baik untuk menganalisa kecocokan hingga berpendapat atas suatu kriteria. Salah satunya adalah Haryadi Hamid, tokoh dari kalangan pemuda di Tarakan yang juga Ketua DPD KNPI Kota Tarakan sekaligus akademisi dari Universitas Borneo Tarakan. 

Ditemui PenaKaltara.com di kediamannya, Minggu (19/11), Haryadi menceritakan hasil pengamatannya kepada wartawan terkait dinamika politik di Tarakan pada Pra-Pilwako yang rencananya akan dilangsungkan tahun 2018 mendatang. Ia mengatakan 3 orang pasangan calon yang diusung oleh partai politik dalam pertarungan politik Pilwako 2018 menjadi suatu keniscayaan. Sedangkan selebihnya, akan mengambil jalur independen. 

"Ada 4 kandidat potensial untuk calon walikota Tarakan," kata Haryadi. Pertama calon petahana Sofian Raga yang katanya sudah mendapatkan pasangan untuk maju pada Pilwako 2018. "Pasangannya itu juga sudah mendapat rekomendasi partai," ungkapnya.  

Kandidat Kedua yakni Dokter Khairul yang telah memilih berpasangan dengan Efendhi Djuprianto. Beberapa partai telah memperlihatkan rekomendasinya untuk kedua pasangan ini. "Bahkan slogan untuk pasangan ini sudah ada juga," tandasnya.  Ketiga,  pasangan Badrun dan Ince. "Pasangan ini sih lagi berjuang, kalau informasi dari beberapa media baru satu partai yang merekomendasikan," imbuh Haryadi. Dan yang terakhir, Keempat,  Umi. Untuk calon bernama Umi ini, Haryadi mengatakan bahwa meskipun Umi belum mendapatkan pasangan, namun satu-satunya calon wanita itu terus melakukan penjaringan dan kemungkinan besar akan melalui jalur independen. 

Sedangkan Arif yang sebelumnya akan maju dalam Pilwako 2018, Haryadi memperkirakan kemungkinan besar akan menyerah. "Karena berdasarkan informasi yang saya himpun, sudah tidak ada pergerakan lagi," akunya. 

Melihat konstelasi politik saat ini, sambung Haryadi, maka yang paling berpeluang untuk duduk kembali pada periode mendatang tidak lain dan tidak bukan yakni hanya calon petahana Sofian Raga. "Karena lihat sendiri yang lain tampak kurang siap," jelasnya.

Haryadi menambahkan, ketidaksiapan calon lain diluar petahana bukan tanpa alasan. Sebab, hingga kini Dokter Khairul dan Haji Badrun masih berkutat pada urusan perebutan kursi. "Yaa mudah-mudahan saja keduanya mendapatkan kursi, jadi 3 kandidat tetap melalui jalur partai," harapnya sambil tersenyum. Sedangkan Umi,  untuk mendapat pasangan saja masih belum diketahui. Padahal, menurut catatan Haryadi tanggal 26 November 2017 merupakan batas akhir penyerahan berkas awal untuk kandidat dari jalur independen. "Waktunya sangat Mepet," ujarnya. 

GEGER ADI KUSTANTO

Editor : Bobby Furtado
TAG